Wednesday, February 17, 2016

Jobless and Fears

3 bulan akhirnya aku menganggur dan belum juga mendapatkan pekerjaan baru, jujur saja aku sungguh sangat benci sekali 3 bulan ini yang hanya menganggur dan tidak banyak hal yang bisa dilakukan. Aku pun jujur selama 3 bulan ini aku sungguh sangat menyesali keputusanku untuk mengundurkan diri, terutama dari perusahaan tempat pertama kali aku bekerja, yah alasanku pindah adalah karena lokasi, tapi sesungguhnya selain lokasi ada beberapa hal yang membuatku akhirnya pindah, mulai dari pekerjaan sampai karir, walau selama 6 tahun aku bekerja, aku mendapatkan 2 kali promosi, namun aku tetap tidak puas mengingat beberapa rekan-rekan kerjaku semakin lama memiliki karir lebih baik, dalam hati pun aku merasa sangat iri, selain itu pekerjaan yang diberikan padaku juga tidak memiliki tanggung jawab yang begitu besar hingga aku pun berpikir bagaimana aku akan memiliki karir yang lebih baik. Tapi selepas itu semua aku sebenarnya harus belajar untuk lebih bersyukur atas yang kumiliki dan mencoba lebih bersabar, selain itu aku sendiri selalu memegang prinsip untuk tidak boleh menyesal untuk setiap keputusan yang kuambil, sebab setiap keputusan yang kuambil pasti memiliki makna untukku. Kadang terdapat perasaan ingin kembali ke perusahaan lamaku dan beberapa rekan kerjaku di perusahaan lama juga menanyakan apakah aku tidak ingin kembali, jujur aku ingin, tapi aku tetap merasa sekarang belum waktunya, sebab saat aku memutuskan untuk keluar aku ingin mengembangkan diriku untuk menjadi lebih baik lagi baru kembali, oleh sebab itu aku tetap akan berusaha mencari pekerjaan baru. Setiap hari pun aku terus memotivasi diriku sendiri untuk tetap yakin bahwa waktunya bagiku untuk bekerja kembali pasti akan datang, setiap hari aku mencari dan memasukkan lowongan dan beberapa pun mendapat tolakan, selain itu setiap hari senin sampai jumat aku pun selalu menunggu telepon panggilan kerja, namun setiap sudah sampai jam 5 sore dan tidak ada telepon sama sekali, aku pun merasa kecewa dan takut, namun aku terus berusaha menyakinkan diriku sendiri bahwa masih ada hari esok. Setiap hari yang kulewati tanpa adanya panggilan kerja sungguh membuat rasa percaya diriku semakin turun dan dengan waktu yang terus berjalan, aku pun semakin takut, sebab aku menyadari waktuku sudah terbuang percuma, dimana kalau dibandingkan dengan teman-temanku yang lain, kereta karirku sungguh sudah tidak bergerak dan makin tertinggal jauh. Aku sungguh makin takut dan mempertanyakan untuk apa aku kuliah hingga memiliki gelar master, tapi untuk mencari pekerjaan tetap sulit, aku sadar dengan kondisi saat ini yang sedang kurang baik dan banyak pemecatan dimana-mana, tapi tetap saja apakah sesulit ini untuk mendapatkan pekerjaan?

Sejak dulu dalam hidupku memang ada 2 hal yang paling sulit kuraih, 1 pekerjaan yang baik dan 1 lagi adalah cinta. Tapi kalau dibanding cinta, pekerjaan masih lebih baik, setidaknya aku pernah bekerja di 2 perusahaan, sedangkan untuk cinta, belum pernah ada 1 pun cintaku yang berbalas selama ini dimana tahun ini usiaku sudah akan berkepala 3. Kalau aku ingat usiaku akan kepala 3 dengan kondisiku sangat ini, sungguh membuatku sangat kecewa sekali, sebab tidak ada 1 hal pun yang berhasil kucapai, kadang aku merasa apakah yaang kurasakan saat ini adalah yang disebut orang-orang dengan stress, jika iya, aku harus belajar untuk mengatasi hal tersebut. Sejak dahulu sungguh aku hanya bisa memotivasi diriku sendiri, selalu terlihat kuat di depan orang lain, namun di dalam hati ini terus saja berperang. Aku juga bukan tipe orang yang suka meminta bantuan orang lain, walau punya banyak teman hebat dan baik, tapi saat aku kesulitan, aku tidak pernah sedikit pun meminta bantuan mereka atau pun menceritakan kesulitanku, sebab aku tidak ingin membebani mereka, namun jika mereka meminta bantuan kepadaku, aku akan dengan senang hati membantu. Hal yang terjadi padaku mengingatkan padaku saat aku tersesat di Jepang, pada saat itu dalam hatiku sudah sangat takut dan berpikiran untuk berjalan kembali, namun dalam hatiku terus berusaha yakin untuk terus maju dan jangan melihat ke belakang hingga akhirnya aku tiba di suatu perumahan yang tidak kukenal dan memberanikan diriku untuk bertanya jalan, walau secara bahasa aku tidak begitu baik dan saat orang yang kutanya menjawab, aku sendiri kurang begitu paham, tapi akhirnya aku pun bisa kembali dan setelah itu menjadi pelajaran yang sangat berharga buatku dan juga menyenangkan karena aku berani mencoba bicara menggunakan bahasa yang tidak begitu kukuasai, dimana hal tersebut membuatku semakin bersemangat untuk menguasai bahasa tersebut, tapi kalau bicara tersesat, sesungguhnya dulu saat aku masih SMP dan pada waktu itu ada acara menginap di villa, dimana pada siang hari aku bersama teman-temanku berjalan-jalan di sekitar daerah itu, hingga akhirnya karena ada beberapa hal yang ingin kulihat dan aku malas menunggu teman-temanku, maka aku pun mendahului mereka, tapi akhirnya malah tersesat hingga masuk ke perkampungan dan aku pun menanyakan dimana jalan besar terdekat hingga akhirnya aku bertemu kembali teman-temanku. Sifatku yang malas menunggu dan penasaran saat berwisata bersama orang lain kadang berbahaya, sebab bisa membuat orang lain jadi susah dan repot, tapi kenapa aku begitu karena aku sadar punya waktu terbatas dan aku ingin melihat sebanyak mungkin yang bisa kulihat, oleh sebab itu aku tidak ingin berlama-lama di 1 tempat. Bagiku saat ini menganggur sama dengan diriku yang sedang tersesat, dimana aku mencoba melamar ke beberapa perusahaan dan beberapa belum ada panggilan maupun ditolak, sama dengan saat aku menanyakan jalan ke orang-orang yang tidak kukenal selama tersesat, namun aku tetap yakin kalau aku harus tetap maju dan jangan melihat ke belakang. Selain itu sama dengan perasaanku yang ingin melihat banyak tempat karena sadar memiliki waktu terbatas saat berwisata, aku juga sadar saat ini waktuku terus berjalan dan terbatas, dimana setiap tahun banyak hal yang ingin kulakukan. Hal lain juga yang membuatku sedih saat menganggur adalah aku tidak bisa memberikan uang lagi kepada orang tuaku dan malah menjadi beban lagi, padahal sejak pertama kali aku kerja, aku selalu memberikan sebagian kecil gajiku untuk orang tuaku, dimana tujuanku bukanlah untuk membalas atas apa yang mereka berikan padaku selama ini, sebab aku sadar apapun yang mereka berikan padaku selama ini tidak akan bisa dibalas dengan uang, aku memberikan uang setiap bulannya hanya berharap dapat mereka gunakan untuk hal-hal yang mereka inginkan, karena selama ini aku sadar pendapatan yang mereka dapatkan hanya digunakan untuk keperluan keluarga dan jarang sekali untuk keperluan pribadi mereka, kalau kata orang itu yang disebut pengorbanan orang tua untuk anak, mungkin suatu saat jika aku berkesempatan menjadi orang tua untuk anak-anakku, aku pasti akan melakukan hal yang sama, dimana keperluan keluarga yang diutamakan dan setiap mengambil keputusan pasti akan berlandaskan keluarga.

Selain perasaan menganggur terlalu lama yang membuatku hatiku takut dalam menjalani kehidupanku, belum lama ini aku juga merasa senang dan khawatir. Senang karena belum lama ini pada hari valentine, walau seperti biasa itu hanya hari yang biasa buatku, tapi aku senang karena 2 hal, 1 adalah aku berkesempatan chat lagi dengan dia dan mengucapkan selamat hari valentine padanya, walau pada hari itu aku tidak bisa memberikan coklat padanya, aku berusaha mengantinya dengan sticker sosial media, entah dia suka atau tidak dan dia paham apa tidak, aku berusaha mencari sticker bertemakan coklat untuk dirinya. Padahal kalau menurut orang-orang yang memberikan hadiah atau coklat adalah dari perempuan ke laki-laki, ada sih harapan dia akan memberiku coklat, tapi aku sadar hal itu tidak akan mungkin terjadi, sebab kan namanya aku yang mengejar, jadi mau tidak mau aku yang harus aktif, padahal selama ini pada hari valentine, tidak pernah sekali pun aku menerima coklat dari perempuan yang kusuka, ada juga menerima coklat malah dari kakakku sendiri, dimana bagiku itu hanya sebatas iseng dari kakakku saja. Berbicara mengenai coklat aku juga bertanya pada dia, apakah dia menyukai coklat, untungnya dia suka, sebab aku punya pengalaman orang yang terakhir kusuka, tidak begitu menyukai coklat karena terlalu manis, walau aku agak terkejut juga, ternyata ada yang tidak suka coklat yah. Setelah mengetahui dia suka coklat, aku berencana ingin memberikan dia coklat pada saat kami bertemu lagi, walau sudah bukan hari valentine lagi, namun aku tetap ingin memberikan kepadanya. Hal lain yang membuatku senang pada hari itu juga adalah pada saat dia mengatakan tahun ini dia akan ke Jepang, pada saat dia mengirimkan adanya promo tiket, tanpa pikir panjang aku langsung mengajaknya pergi, sudah sejak pertama kali pergi aku ingin mengajak dia. Dulu saat berada di Jepang, ke mana pun aku pergi, aku selalu memikirkan dia dan ingin sekali memperlihatkan tempat-tempat yang kulihat, pada saat itu aku berharap dia ada bersamaku. Tapi belum tentu juga yah dia mau pergi denganku, tapi yang penting akhirnya dia pergi dan bersama keluarganya, dimana aku masih ingat tahun lalu dia memang berkata ingin pergi bersama keluarganya, akhirnya impiannya terkabul. Dia pun selama chat juga terlihat sangat bersemangat sekali dan aku juga sangat senang sekali, bahkan entah kenapa aku juga jadi sangat bersemangat sekali memberikan referensi tempat yang bisa dia datangi, pada hari itu setelah aku pulang berjalan dengan keluargaku, aku langsung mencari brosur-brosur yang pernah kukumpulkan selama di Jepang dan memilihkan yang sesuai untuk referensi dia. Aneh juga sih, yang pergi siapa tapi yang sangat bersemangat siapa, padahal ikut juga tidak yah, namun aku tetap berharap, suatu saat jika ada kesempatan dan dia bersedia, aku ingin pergi dengan dia. Selain perasaan senang pada hari itu, aku juga diberitahu oleh dia bahwa pada hari sabtu dia tidak masuk karena mau pergi, saat mengetahui hal itu, aku merasa sedih karena tidak bisa melihatnya padahal dalam 1 minggu, aku hanya bisa melihatnya 1 kali dan itu pun hanya beberapa jam saja. Jika dia masuk, selain aku ingin memberikan brosur dan sisa uang logam dari Jepang yang tidak digunakan, aku juga ingin memberikan coklat padanya, tapi mau bagaimana lagi, keinginanku itu harus kutunda. Lalu saat aku mengetahui dia mau pergi ke gunung untuk berkemah, awalnya aku tidak tahu, kukira dia hanya pergi ke luar kota atau dinas, aku tidak sadar kalau tempat yang dia sebut adalah pegunungan, sampai akhirnya dia bilang dinas di gunung, sungguh sangat memalukan sekali karena tidak tahu nama pegunungan di negara ini. Saat tahu untuk menempuh perjalanan menuju tempat tersebut butuh waktu hampir setengah hari perjalanan dan dia akan menginap dia alam terbuka, aku agak cemas sekali padanya, apalagi dia bilang ini adalah pengalaman pertama. Aku cemas karena pertama itu adalah pegunungan, lalu beberapa hari ini cuaca sedang hujan, walau di sana belum tentu hujan, selai itu dia juga belum lama sembuh, aku khawatir dia akan terlalu lelah, tapi saat dia berkata sangat bersemangat yah, aku pun senang dia bersemangat seperti itu dan aku juga harus percaya dia pasti baik-baik saja, yang terpenting dia menikmati hal yang dia lakukan. Yah kalau mau jujur sih aku ada keinginan untuk menemani dia pergi agar bisa menjaganya, tapi tidak mungkin aku minta diajak, selain itu juga adalah acara pribadi dia dan siapa aku yang tiba-tiba ikut. Hal yang bisa kulakukan hanya berdoa dia akan baik-baik saja selama perjalanan pergi dan pulang dan percaya dia pasti bisa menjaga diri baik-baik, selain itu yang terpenting menikmati pertualangannya.

Sampai saat ini aku sungguh masih tidak bisa percaya bahwa aku sungguh kembali jatuh cinta setelah terakhir kali aku merasakan perasaan seperti ini adalah 10 tahun lalu. Entah kenapa juga aku merasa perasaanku kali ini sepertinya lebih kuat daripada dulu, tapi sekaligus juga takut jika akhirnya akan kecewa, maka aku akan terluka lebih dalam daripada dulu. Namun terlepas dari ketakutanku itu, saat ini aku sungguh hanya ingin memperhatikan dan selalu melihat senyumnya, oleh karena itu aku harus terus berusaha mencari suatu pekerjaan agar menjadi orang yang lebih pantas di hadapannya.

No comments: