Hari Jumat Tanggal 8 Juli 2016
Pada hari ini untuk beberapa perusahaan masih merupakan hari libur, sedangkan untuk diriku, hari ini adalah hari kerja biasa tapi walau pun begitu, suasana di kantor sungguh sangat sepi sekali, hal itu karena beberapa orang memilih untuk cuti. Bagi diriku, jika aku mengambil cuti, selain akan memotong cuti tahunanku, aku juga pasti tidak akan melakukan apa-apa di rumah, hanya tidur dan menonton TV saja, aku rasa hal itu sudah cukup aku lakukan selama 6 bulan menganggur. Setelah 6 bulan menganggur dan terus menerus ditolak dimana-mana, akhirnya pada pertengahan bulan Mei, aku pun menemukan pekerjaan baru di perusahaan baru yang belum memiliki nama. Ada perasaan sedih dan senang, sedih karena aku yang sudah 7 tahun bekerja di perusahaan yang besar dan terkenal, sekarang bekerja di perusahaan yang aku pun tidak tahu akan berkembang sejauh mana. Dulu jika ada orang yang bertanya padaku bekerja dimana, pasti aku akan dengan bangga menjawab nama perusahaanku, tapi sekarang jika aku ditanya, aku sangat bingung menjelaskan perusahaanku bergerak di bidang apa dan belum lagi karena masih baru, tidak ada yang mengenal nama perusahaanku. Tapi sisi senangnya adalah, aku dapat bekerja lagi tentunya, lalu di perusahaan baruku ini, masih cukup bebas baik secara berpakaian, mau pun pekerjaan, belum ada banyak peraturan dan bagiku yang memang ingin memulai semua dari bawah, aku rasa tempat ini adalah tempat yang cocok untukku.
Walau aku sudah bekerja sekarang, aku tetap merasa ada hal yang kurang, yaitu tentu saja hal yang selalu hatiku pertanyakan hampir setiap harinya, pasangan hidupku, kapankah aku akan menemukan seseorang yang akhirnya akan menerimaku dan mau berjuang bersama dengan diriku. Aku bukannya tidak berusaha mencari, tapi saat aku merasa menemukan orang tersebut, ternyata cintaku hanyalah bertepuk sebelah tangan. Belum lama ini diriku sendiri baru saja ditolak oleh seseorang yang sudah aku suka selama 1 tahun ini, bahkan kami sempat jalan berdua saja dimana untuk pertama kalinya aku menunggu seseorang selama 6 jam. Pada saat itu aku sungguh senang sekali bisa jalan bersama dia, makan berdua, dan tentu saja mengantar dia pulang ke rumah. Hal yang lebih menyenangkan lagi adalah selama aku mengantar dia pulang, aku banyak mendengarkan cerita dirinya, dimana semakin aku mengenal dirinya, aku perasaan cintaku padanya pun semakin dalam. Tapi beberapa setelah itu, akhirnya aku pun mencoba mengungkapkan perasaanku selama ini kepada dirinya, walau aku mengungkapkan perasaanku itu melalui chat, dimana aku juga sadar bahwa hal itu sungguh menunjukkan aku bukan seorang pemberani (mungkin itu adalah hal yang dipikirkan oleh dia dan semua orang). Jika aku sungguh mencintai dia, seharusnya aku mengatakan langsung pada dirinya dan bukannya melalui chat, tapi aku sendiri bukanlah orang yang dengan mudah mengatakan perasaan langsung pada seseorang. Lebih mudah mengungkapkan apa yang kurasakan melalui tulisan dibandingkan mengatakan langsung, apalagi setiap bertemu dengan dia saja, aku selalu diam 1000 kata tidak tahu ingin berkata apa. Bagiku ini adalah diriku yang sesungguhnya dan mungkin karena kepribadianku ini, sampai saat ini pun aku tidak pernah menemukan seseorang. Bagiku dia adalah orang ketiga dalam hidupku yang benar-benar aku cintai, aku sungguh sangat sayang sekali padanya dan tentu saja harapanku akan dapat bersama dengan dirinya sungguh besar sekali, namun apa boleh buat, pada akhirnya hal yang sama terjadi padaku kembali, namun kali ini walau hatiku sangat sedih sekali, aku tidaklah menangis atau pun mengasingkan diriku seperti dulu, entah hal itu apakah karena aku yang sudah lebih kuat atau karena diriku sadar bahwa sepertinya akan berakhir seperti biasa, yaitu bertepuk sebelah tangan. Walau cintaku hanya bertepuk sebelah tangan, namun seperti biasa aku hanya bisa mendoakan kebahagiaan dia, sama dengan 2 orang yang pernah kucintai sebelumnya dan entah apakah aku juga akan menunggu sama seperti yang pernah kulakukan 8 tahun yang lalu.
Jujur dalam hatiku sesungguhnya aku mempunyai 2 skenario hidup atau mimpi yang telah aku bayangkan mungkin akan jadi jalan hidupku, yaitu mempunyai keluargaku sendiri atau akhirnya hanya berakhir hidup seorang diri. Impianku untuk memiliki keluarga sendiri, sesungguhnya sejak dulu aku memiliki target sendiri, yaitu aku ingin menikah di usia 27 tahun dan menjadi seorang ayah di usia 28 tahun. Jika bisa aku ingin menikah di gerejaku, dimana disana aku menunggu calon istriku berjalan dari pintu gerbang gereja dan saat telah sampai, kami pun mengucapkan janji pernikahan satu sama yang lain, dimana saat aku mengucapkan janjiku, aku akan mengucapkan dengan sepenuh hatiku dan aku akan berkata kepada Tuhan, Tuhan terima kasih banyak atas pasangan hidup yang kau berikan padaku, engkau tahu bahwa selama ini aku terus mencari cahayaku dan dapat menikah dengan seseorang yang sangat kucintai adalah hal paling membahagiakan dalam hidupku ini, aku pun akan selalu menjaga dan memperhatikan orang yang akan kunikahi ini. Setelah itu aku dan istriku pun akan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua kami dan aku pun akan mengatakan pada orang tuaku terima kasih dan mulai sekarang aku akan menjalankan keluarga kecilku, aku akan berjuang sama dengan orang tuaku yang terus berjuang bersama membentuk keluargaku saat ini. Lalu untuk resepsi aku ingin mengadakan di sebuah gedung yang luas dimana aku dapat mengundang seluruh keluarga, teman-teman orang tuaku, teman-temanku dari waktu aku kecil hingga aku kerja saat ini, selain itu aku juga ingin istriku mengundang semua orang yang dia inginkan tanpa memikirkan batasan undangan. Aku ingin semua undanganku dapat menikmati makanan tanpa perlu memikirkan makanan akan habis. Saat acara kami akan berjalan keliling dan setiap teman-teman yang kami temui, aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan mereka selama ini. Aku ingin melihat senyuman semua orang yang kuundang dan mendengarkan mereka berkata "Selamat yah Ded". Setelah acara aku ingin berbulan madu ke Jepang bersama istriku dan kami berjalan ke semua tempat dan kuil-kuil dimana aku berharap aku bisa terus membahagiakan orang yang berada disisiku saat ini. Setahun setelah menikah aku pun berharap menjadi seorang ayah dan pada saat itu, aku akan kembali mengucapkan terima kasih pada Tuhan atas berkah yang diberikan kepadaku. Walau baru lahir dan belum paham apapun juga, aku akan berkata pada anakku, selamat datang ke dunia ini, aku akan mengajarkan banyak hal dan aku pun berharap anaku dapat menjadi salah satu anak paling bahagia di dunia. Aku pun berharap akan memiliki 4 orang anak (2 laki-laki dan 2 perempuan) dengan selisih usia mereka adalah 2 tahun. Aku ingin setiap tahunnya kami memiliki 2 kali liburan bersama, dimana pada pertengahan tahun kami akan menghabiskan liburan ke luar kota dan pada akhir tahun menghabiskan liburan di luar negeri. Aku ingin setiap pagi mengantar anak-anak dan istriku ke sekolah dan tempat kerja, baru diriku ke tempat kerja, jika memungkinkan dan memang sejalan. Aku berharap istriku tetap bekerja sesuai dengan yang dia inginkan, hingga suatu hari dia siap menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Aku ingin memiliki 1 rumah di pinggiran kota dan 1 apartemen di tengah kota, dimana pada akhir pekan kami akan tinggal di rumah kami dan pada hari biasa tinggal di apartement. Aku ingin memiliki seekor anjing dengan jenis golden, husky, atau shiba inu (jika ada). 1 bulan sekali aku ingin kami semua mengunjungi orang tuaku atau orang tua istriku atau mengajak mereka menginap di rumah kami. Selama menjalani pernikahan, pasti ada kalanya aku dan istriku berselisih paham dan bertengkar, pada saat itu mungkin kami akan saling dia hingga akhirnya kami berbaikan kembali. Pada saat anak-anak kami dewasa nanti dan telah menemukan pasangan hidup mereka, pada saat itulah aku pensiun dan menghabiskan waktu dengan istriku berdua saja, dimana aku ingin kami tinggal di pinggiran kota yang memiliki halaman belakang yang cukup luas untuk berkebun. Lalu saat kami menjadi kakek dan nenek, aku ingin kami menjadi kakek dan nenek yang selalu menjadi pelindung untuk cucu-cucu kami disaat mereka merasa sedih atau pun memiliki masalah. Hal sama yang kuajarkan pada anak-anakku juga akan kuajarkan pada cucuku dan jika berkesempatan, aku ingin mengantar cucuku ke sekolah, dimana aku akan menunggu sampai dia pulang dan mengajak cucuku pergi main setelah pulang sekolah mungkin. Hingga waktuku tiba, aku ingin anak-anakku nanti tetap menjaga dan memperhatikan istriku dan aku ingin mengucapkan sekali lagi kepada istriku terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah mau menemani diriku menjalani kehidupan ini dan membuat kehidupanku menjadi sangat berarti sekali, terima kasih sudah menjadi cahaya untuk hidupku dan aku berharap jika ada kehidupan yang lain lagi, aku ingin bersama dengan dia kembali.
Skenario lain hidupku, jika pada akhirnya aku harus hidup seorang diri. Hal yang kulakukan adalah terus menerus bekerja dimana setiap tahun aku akan liburan ke Jepang, aku akan menjelajahi seluruh negeri itu. Aku juga akan membeli apartement dan rumah untuk diriku sendiri. Selama bekerja, aku akan merawat kedua orang tuaku, mengajak mereka pergi jalan atau makan ke tempat yang mereka belum pernah datangi. Saat aku memiliki keponakan, aku akan menjadi paman tempat mereka mengeluh dan berkonsultasi jika memiliki masalah, walau hanya sebatas keponakan, bagiku mereka adalah anak-anak yang tidak pernah kumiliki. Pada saat aku sudah tua dan waktunya pensiun, aku akan tinggal di pinggir kota seorang diri dengan beberapa ekor anjing yang menemani aku. Pada saat aku tiada nanti, aku hanya bisa berkata terima kasih banyak kepada Tuhan, walau menjalani hidup ini seorang diri tanpa menemukan seorang pasangan hidup. Aku tetap sangat bersyukur karena dapat melakukan banyak hal, belajar berbagai hal, memiliki keluarga dan teman-teman yang baik. Terima kasih karena telah memberikan kekuatan pada hatiku untuk dapat terus menjalani kehidupan ini seorang diri dan tidak jatuh ke hal yang salah. Walau sepanjang hidupku jauh di dalam hatiku aku terus merasa kesepian sekali, merasa cemburu saat melihat orang lain bahagia bersama pasangan hidup mereka, dan cemburu saat melihat orang lain menjadi orang tua. Namun aku harus bersyukur karena aku masih diberikan kehidupan, masih diberikan kesempatan merasakan jatuh cinta dan walau singkat, pernah merasakan memiliki seseorang yang sangat special sekali dalam hidupku ini. Jika memang di dunia ini ada kehidupan lain, aku pun berharap pada kehidupanku yang mendatang, aku dapat menemukan seorang pasangan hidup yang dapat membuat hidupku lebih berarti. Skenario hidupku jika aku hanya seorang diri memang sangat singkat sekali, karena tidak banyak hal yang ingin atau bisa aku lakukan, hanya menjalani hidup ini sampai waktunya tiba.
Entah hidupku akan berakhir pada skenario yang mana, walau saat ini aku merasa sepertinya aku akan menjalani hidupku seorang diri, bukannya aku pesimis akan hidupku, namun aku hanya berusaha menerima kenyataan saja. Dalam hatiku paling dalam, aku tetap ingin terus percaya bahwa suatu hari aku akan menemukan seseorang dalam hidupku, entah berapa tahun atau berapa puluh tahun lagi. Aku akan terus percaya walau dengan berjalannya waktu, aku sadar aku harus mulai melepaskan harapanku sedikit demi sedikit dan menjalani kenyataan untuk hidup seorang diri.
No comments:
Post a Comment