Saat ini usiaku sudah 29 tahun, yah boleh dibilang bukanlah usia yang masih muda. Untuk beberapa orang yang seusia denganku, mungkin saat ini sudah menjadi seorang ayah, berbeda dengan diriku yang masih saja terus mencari seorang pendamping yang entah akan bisa ditemukan sampai kapan. Kadang aku suka bertanya kepada Tuhan, kenapa beberapa orang begitu mudahnya menemukan pendamping hidupnya, sedangkan diriku untuk menemukan 1 orang saja begitu sulit, apakah memang jalan hidupku memang seperti ini? apakah aku memang tidak boleh memiliki keluarga sendiri? apakah aku tidak boleh merasakan menjadi seorang suami atau ayah? hampir setiap hari aku bertanya dalam hatiku sendiri, aku berusaha menilai diriku sendiri yang pada akhirnya malah menjadikan diriku semakin tidak percaya diri, berkali-kali juga aku terus memotivasi diri sendiri, namun sampai kapankah aku bisa terus memotivasi diri sendiri?
Dulu saat aku masih kuliah, aku memiliki target bagi diriku sendiri untuk berkeluarga, namun setelah target tersebut terlewati dan aku tidak lagi tahu tujuan apa yang ingin kucapai, akhirnya aku pun memutuskan hanya ingin melakukan yang kusuka seperti kembali kuliah S2 dan akhirnya aku pun berhasil lulus, walau tidak mudah. Setelah itu aku memutuskan untuk mengambil kursus bahasa Jepang, dimana saat ini masih kujalani. Walau aku terus melakukan hal-hal yang ingin kulakukan, namun jauh di dalam hatiku, aku sadar bahwa sesungguhnya aku tetap merasa sangat kesepian, boleh dibilang mungkin hatiku hanya bisa menangis jika memikirkan kondisiku saat ini. Saat aku sedang berusaha mencari seseorang yang dapat menjadi cahaya bagiku, aku pun akhirnya bertemu dengan seseorang. Saat pertama kali melihatnya, aku sudah tertarik padanya, dalam hatiku aku ingin tahu mengenai orang itu. Kami pun hanya bertemu 1 minggu sekali dan sangat jarang sekali mengobrol, hingga suatu saat terdapat situasi dimana kami saling memberikan no HP kami, pada saat itu aku merasa senang sekali dan aku pun mencoba mencari informasi mengenai dirinya melalui social media yang ada. Saat aku melihat salah satu post di social medianya, aku pun sadar bahwa dia telah memiliki seseorang, dalam hatiku pun kembali muncul rasa kecewa yang sangat dalam, kembali apakah aku salah menyukai seseorang lagi? mengapa sangat sulit sekali menemukan seseorang.
Setelah beberapa bulan waktu berjalan dan setiap sabtu kami bertemu, ada suatu masa dimana akhirnya aku pun nekat mengirim pesan pada dirinya, yah walau pesan itu hanya seputar kegiatan yang kami ikuti bersama, tapi saat dia membalas, perasaan hatiku sangat senang sekali, sungguh senang, namun obrolan kami pun sungguh singkat dan setelah itu kami menjalani seperti biasanya lagi, saat bertemu hanya bisa bilang hai. Lalu suatu hari dimana aku berkesempatan untuk memnuhi sebagian kecil mimpiku yaitu pergi ke Jepang, aku sangat bahagia sekali dan masih tidak bisa menyangka akan hal itu, saat perjalanan menuju ke negara yang sangat aku impikan itu, dalam hatiku pun sangat ingin sekali membagi perasaan itu dengan dia, akhirnya aku pun mengirim pesan padanya dan mengobrol sebentar dengannya. Saat berada di Jepang, dalam setiap perjalanan dan pengalaman yang aku alami, sangat ingin sekali kubagi dengan dirinya, namun disisi hatiku yang lain, aku terus mengatakan pada diriku, ingat dia sudah memiliki seseorang, aku tidak boleh merusak hubungan orang lain, aku pun terus mengingatkan diriku agar tidak boleh terluka lagi oleh cinta yang bertepuk sebelah tangan. Aku pun akhirnya tidak mengirimkan pesan ke dia lagi dan hanya mencoba menikmati perjalananku di negara yang aku impikan. Selama disana ada banyak sekali tempat yang cocok sekali untuk pasangan, dalam hatiku aku ingin sekali mengajak dia atau siapa pun yang menjadi pasanganku kelak, melihat banyak penduduk lokal dan turis yang berpasangan, membuat hatiku merasa iri, walau aku pergi bersama dengan kakak dan teman-temanku, dalam hatiku tetap merasa kesepian. Setelah 1 minggu berada disana dan waktunya untuk kembali, dalam hatiku merasa sedih, karena aku sungguh sudah merasa sangat nyaman sekali berada di negara itu, entah kenapa aku merasa dekat sekali dengan negara itu, yah mungkin itu karena sejak SMP aku sudah sangat suka dengan negara itu sampai saat ini. Maka pada hari terakhir aku berada disana, aku pun memakan makanan khas negara itu sambil melihat matahari terbit dari jendela tempatku menginap, aku pun berkata pada diri sendiri, suatu saat aku akan kembali lagi ke negara ini, itu adalah janjiku.
Setelah kembali dari liburanku, besoknya aku pun bertemu dengan dia dan membawakan oleh-oleh untuk dia. Khusus untuk dia aku membawa oleh-oleh jimat, dimana sebelum pergi dia bilang, ingin sekali jimat dari negara itu. Selama di negara itu pun setiap ketemu kuil, aku pasti mencari jimat, dimana awalnya aku sendiri juga ingin, namun aku lebih ingin memberikan pada dirinya. Selama disana aku berusaha mencari jimat yang berarti kebahagian dan berwarna hijau, karena aku tahu dia suka sekali dengan warna hijau, jimat kebahagian karena aku ingin sekali dia bahagia, yah sejak dulu jika aku menyukai seseorang, harapan terbesarku adalah orang itu bahagia, selalu bahagia. Maka setelah kuberikan padanya, aku tidak menyangka dia memasukkan oleh-olehku untuk dia di social media dia, aku pun terkejut dan senang. Terkejut karena aku memikirkan bagaimana nanti perasaan pasangan dia, namun dalam hatiku juga bertanya, apakah ini artinya aku memiliki kesempatan? tapi hal itu tentunya terus berusaha kubuang dari pikiranku, ingat dia sudah punya seseorang dan jangan sampai aku jatuh cinta kepada dia terlalu dalam, sebab nanti malah akan berakhir seperti 8 tahun yang lalu. Namun walau begitu, seminggu sekali, aku pun mengirimkan ucapan selamat malam kepada dia dan dia pun mambalas, sampai ada suatu hari, kami pun mengobrol pada hari kerja dan sempat sampai 3 hari berturut-turut. Cuma selama 3 hari itu, hatiku dibuat sangat bertanya-tanya, yah dia sempat bilang dia tipe orang yang jarang mempedulikan pesan masuk, sehingga pesan-pesanku kadang dia sangat lama sekali membalas, bahkan bisa sampai setelah 1 hari baru balas. Aku pun ingin percaya dia tipe yang memang jarang peduli pesan, namun jika aku melihat statusnya yang selalu online, aku pun mulai ragu dan bertanya pada diriku sendiri, apakah sebenarnya dia terganggu dengan pesanku, apakah dia tahu jika aku berusaha mendekati dia? sehingga dia mencoba menjauh? aku terus bertanya dalam hatiku yang membuat aku pun tidak bisa tenang, hingga aku terus berkata pada diriku snediri, lupakan dia, mungkin dia bukan orangnya, jangan melangkah lebih jauh lagi agar tidak sakit lebih dalam, ingat 8 tahun lalu, ingat bagaimana sakitnya hatiku saat itu, lalu aku pun mulai tidak lagi mengirim pesan padanya. Namun selama beberapa kali mengobrol, yang aku tahu mengenai dirinya hanya dia suka warna hijau, dia anak rumahan, ayahnya dari Bangka dan ibunya dari Medan, dia bisa bahasa mandarin dan ingin mempelajari 5 bahasa, dia seumuran dengan adikku, kakaknya sama usianya dengan aku. Sedikit sekali informasi yang kutahu mengenai dia, yah dia pun jarang terbuka saat mengobrol, selain itu juga dia tampaknya tidak begitu tertarik mengenai diriku, sehingga dia juga tidak pernah bertanya hal-hal pribadi tentangku, padahal jika dia bertanya, aku pasti dengan senang hati akan menjawab.
Sesungguhnya berdasarkan tanda-tanda seperti itu seharusnya bagiku sudah jelas bahwa dia hanya menganggap aku sebatas teman saja, namun tetap aku masih menyimpan harapan padanya. Lalu suatu saat kami ujian bersama dan aku pun terus menyemangati dia dan sampai tidak memikirkan diriku sendiri. Untuk ujian kali ini, aku punya perasaan buruk dan sudah berpikir bahwa mungkin kami tidak akan sekelas lagi, karena aku tidak yakin aku akan bisa lulus. Setelah ujian ternyata memang benar aku pun tidak lulus, hatiku sangat kecewa sekali, aku juga malu kepadanya, dimana dia tahu aku yang paling bersemangat dan selalu memasang status pada social mediaku, dimana aku terus menerus belajar setiap hari sebelum ujian. Pada saat tahu aku tidak lulus, hatiku sangat hancur dan sedih, tidak masalah sesungguhnya buat diriku mengulang, hanya saja tidak dapat sekelas lagi dengan dia, rasanya sedih sekali. Tapi dalam hatiku juga berkata, mungkin itu tanda yang jelas dari Tuhan bahwa tidak mungkin kami berjodoh, Tuhan ingin aku menjauh dari dia. Yah seperti biasa hatiku masih juga keras kepala, aku masih berusaha mencoba ikut ujian ulang dan mempersiapkan diri hanya dalam waktu 1 hari saja. Saat ujian ulang sesungguhnya aku menyerah karena ternyata soalnya lebih sulit. Pulang dari ujian pun rasanya hatiku hancur dan aku harus menerima kenyataan yang ada, akhirnya kekecewaanku itu, kumasukkan ke dalam media socialku, namun tanpa terduga, dia yang selama ini tidak pernah mengirim pesan terlebih dahulu kepadaku, tiba-tiba bertanya kenapa dengan statusku. Pada saat itu perasaan senang, berdebar-debar, dan bahagia pun muncul, sudah lama aku tidak merasakan perasaan ini, apalagi dia juga menyemangatiku. Satu kata semangat dari dia saja, sudah membuatku sangat hidup sekali, hingga aku pun lupa akan hasil ujianku. Yah Tuhan aku sungguh jatuh cinta pada dia, seandainya perasaanku ini dapat tersampaikan kepada dia, tapi disisi lain aku juga takut sekali, takut akhirnya aku ditolak dan kami pun akan menjauh seperti yang pernah terjadi padaku 8 tahun lalu. Aku senang, namun juga takut, tapi aku masih mencoba menganggap bahwa pesan dia itu hanya sebatas peduli sebagai seorang teman, aku tidak boleh terlalu bahagia dan salah mengartikan pesan dia itu, itu yang terus kukatakan pada diriku, tapi tetap hatiku ini berdebar dan tidak tenang. Selain itu aku juga tidak menyangka ujian ulangku ternyata lulus, itu artinya aku akan bisa 1 kelas lagi dengan dia dan bisa bertemu dia lagi setiap minggunya, aku lalu bertanya kepada Tuhan, apakah artinya ini? Jika dia bukan jodohku, kumohon jauhkan dia dariku, agar hatiku tidak sakit terlalu dalam, kenapa? Kenapa aku seperti diberikan harapan, walau sudah jelas harapan itu tidak ada. Tapi jujur aku memang sangat suka padanya, aku sadar karena hatiku tidak bisa tenang memikirkan dia, aku ingin tahu lebih banyak mengenai dia, aku ingin dia dapat membagi pengalaman dia denganku. Setelah 8 tahun aku tidak menyangka perasaan ini muncul lagi, namun jika akhirnya akan berakhir seperti 8 tahun lalu, bisakah aku bangkit kembali? O yah Tuhan, janganlah engkau terus membuatku bermimpi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan, karena engkau sendiri tahu bagaimana sakitnya 8 tahun lalu itu, bagaimana sulitnya untuk dapat bangkit. Engkau tahu bagaimana rasanya diriku yang begitu kesepian ini dan sangat mengharapkan adanya seseorang yang dapat mendampingi dan berbagi bersama sampai hidupku berakhir. Aku hanya memohob untuk tidaklah lagi mempermainkan perasaanku dan memberikanku harapan-harapan palsu, aku hanya ingin dapat menemukan jodohku yang sesungguhnya dan tidak bertepuk sebelah tangan, karena aku sangat lelah, sudah sangat lelah sekali.
No comments:
Post a Comment